Khutbah Jumat tentang taubat ini mengingatkan bahwa setiap manusia pernah berbuat salah. Yang membedakan adalah apakah kita segera kembali kepada Allah, atau terus berada dalam dosa.
Teks khutbah ini membahas tentang dosa, syarat taubat nasuha, dan pentingnya bertaubat sebelum ajal datang, supaya kita masih punya kesempatan memperbaiki diri, lengkap dengan dalil Al-Qur'an dan hadits beserta terjemahnya. Cocok dibaca khotib dengan durasi sekitar 8 sampai 9 menit, dan tersedia dalam bentuk PDF.
Isi khutbah ini
- Setiap manusia pernah berbuat salah
- Jangan berputus asa dari ampunan Allah
- Syarat taubat nasuha
- Taubat sebelum terlambat
- Taubat sebagai kebiasaan harian
- Memulai hidup yang lebih baik setelah bertaubat
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَتَحَ بَابَ التَّوْبَةِ لِعِبَادِهِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Jamaah sekalian, ada satu kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Kita semua pernah berbuat salah. Ada yang salah dalam berbicara. Ada yang lalai dalam sholat. Ada yang tidak menjaga pandangan. Dan ada pula dosa yang hanya kita dan Allah yang tahu.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah, adalah mereka yang banyak bertaubat.”
(HR. Tirmidzi, nomor 2499)
Coba kita perhatikan. Hadits ini tidak mengatakan bahwa orang terbaik adalah orang yang tidak pernah salah. Itu mustahil bagi manusia. Yang terbaik adalah orang yang ketika salah, ia segera kembali kepada Allah. Dosa memang buruk, tetapi terus-menerus berbuat dosa jauh lebih buruk.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di sinilah syaitan menggoda kita. Ia tidak selalu mengajak kita berbuat dosa besar sekaligus. Sering kali ia justru menggoda setelah kita berbuat salah. Katanya, sudah terlanjur, taubatmu tidak akan diterima, lanjutkan saja sekalian.
Ucapan syaitan ini berbahaya, karena membuat orang putus asa. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri yang melarang kita berputus asa. Allah berfirman.
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar ayat 53)
Perhatikan cara Allah memanggil kita. “Wahai hamba-hamba-Ku.” Allah tidak memanggil kita dengan sebutan pendosa, tetapi dengan sebutan hamba. Selama seseorang mau kembali kepada Allah, Allah tetap menerima taubatnya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tetapi taubat bukan sekadar ucapan di lisan. Allah memerintahkan kita.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu.”
(QS. At-Tahrim ayat 8)
Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang sungguh-sungguh, atau yang disebut taubat nasuha, memiliki empat unsur.
Pertama, berhenti dari dosa itu sekarang juga. Taubat tidak sah kalau kita masih terus melakukan dosa itu sambil mengucap istighfar.
Kedua, menyesal di dalam hati atas apa yang sudah kita lakukan.
Ketiga, bertekad tidak mengulanginya. Kalau suatu hari kita berbuat salah lagi, jangan putus asa. Bertaubatlah kembali, karena Allah tetap menerima taubat kita.
Keempat, kalau dosa itu berkaitan dengan hak manusia, misalnya utang yang belum dibayar, harta yang diambil, atau nama baik orang lain yang kita rusak, maka kita harus mengembalikan hak itu atau meminta maaf kepada yang bersangkutan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sekarang kita sampai pada bagian yang paling penting, yaitu kata “sebelum terlambat”.
Allah memang menerima taubat, tetapi kita tidak tahu sampai kapan kita masih diberi kesempatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.”
(HR. Tirmidzi, nomor 3537)
Artinya, kesempatan itu ada batasnya. Batasnya adalah ajal kita, dan tidak ada satu pun dari kita yang tahu kapan waktunya. Bisa hari ini, bisa besok.
Beliau juga mengabarkan bahwa siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, Allah akan menerima taubatnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Maka jangan menunda dengan berkata, nanti saja setelah urusan ini selesai, nanti saja kalau sudah tua. Tidak ada jaminan umur kita sampai besok.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita juga perlu ingat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, manusia yang dosanya sudah diampuni, tetap memperbanyak istighfar. Beliau bersabda bahwa beliau bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim. Kalau beliau saja demikian, bagaimana dengan kita yang dosanya begitu banyak?
Di zaman sekarang, dosa juga mudah sekali terjadi. Ada dosa yang kita lakukan di depan layar, saat tidak ada yang melihat. Ada dosa lisan lewat komentar dan kabar yang kita sebarkan. Ada dosa yang kita anggap kecil karena sudah terbiasa. Maka taubat bukan hanya untuk dosa besar. Taubat adalah kebiasaan harian seorang mukmin.
Dan ingatlah, taubat bukan hanya berhenti dari keburukan. Taubat juga berarti memulai hidup yang lebih baik. Setelah bertaubat, perbanyaklah kebaikan, yaitu menjaga sholat, bersedekah, membantu sesama, berbakti kepada orang tua, dan menjaga lisan. Semua itu adalah cara kita memperbaiki diri.
Marilah kita mulai hari ini. Tidak perlu menunggu waktu yang sempurna. Angkat tangan, mohon ampun kepada Allah, dan mulailah kembali.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, dan mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
يَا عِبَادَ اللَّهِ، تُوبُوا إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا، وَبَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ قَبْلَ أَنْ تُشْغَلُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَىٰ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَأَهْلَهَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Sumber ayat: QS. Az-Zumar ayat 53, QS. At-Tahrim ayat 8, QS. Al-Baqarah ayat 222, QS. Al-A'raf ayat 23, dan QS. Al-Ahzab ayat 56.
Sumber hadits: HR. Tirmidzi nomor 2499 dan 3537, HR. Muslim nomor 2702 dan 2703.
Demikian teks khutbah Jumat tentang taubat dan kembali kepada Allah sebelum terlambat. Semoga bermanfaat. Silakan unduh PDF-nya melalui tombol di bawah ini.
DOWNLOAD PDF KHUTBAH TAUBAT