Khutbah Jumat tentang silaturahmi ini mengingatkan bahwa kemudahan berhubungan di zaman sekarang tidak selalu membuat hubungan keluarga dan tetangga semakin dekat. Banyak keluarga yang tinggal berdekatan tetapi jarang bertegur sapa.
Teks khutbah ini membahas makna silaturahmi, cara menyambungnya di tengah kesibukan, menjaga ukhuwah di tengah keluarga dan masyarakat, serta menghindari kabar bohong yang merusak persaudaraan, lengkap dengan dalil Al-Qur'an dan hadits beserta terjemahnya. Cocok dibaca khotib dengan durasi sekitar 8 sampai 9 menit, dan tersedia dalam bentuk PDF.
Isi khutbah ini
- Silaturahmi di tengah kemudahan berhubungan
- Perintah Allah menjaga hubungan kekeluargaan
- Silaturahmi di tengah kesibukan
- Menyambung hubungan dengan keluarga yang memutuskan
- Ukhuwah dan saling membantu
- Menjaga persaudaraan dari kabar bohong
- Menjaga hubungan dengan tetangga
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةً، وَأَمَرَنَا بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Jamaah sekalian, zaman sekarang kita sangat mudah berhubungan dengan siapa saja. Lewat telepon dan pesan singkat, kita bisa menyapa saudara yang jauh dalam hitungan detik. Tetapi kemudahan ini ternyata tidak selalu membuat hubungan kita semakin dekat.
Ada keluarga yang tinggal berdekatan tetapi jarang bertegur sapa. Ada saudara yang bertahun-tahun tidak bertemu, dan hanya saling mengirim ucapan selamat pada hari-hari tertentu. Ada juga tetangga yang tinggal bersebelahan tetapi tidak saling kenal.
Karena itu, khutbah hari ini membahas silaturahmi dan persaudaraan di zaman sekarang.
Silaturahmi artinya menyambung hubungan kasih sayang dengan keluarga dan kerabat. Allah memerintahkannya dalam firman-Nya.
“Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
(QS. An-Nisa ayat 1)
Perhatikan, Allah menyebut perintah menjaga hubungan kekeluargaan tepat setelah perintah bertakwa kepada-Nya. Ini menunjukkan betapa pentingnya silaturahmi.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Alasan yang paling sering kita dengar adalah sibuk. Ada yang bekerja jauh dari kampung halaman. Ada yang sibuk dengan usaha, pekerjaan, dan urusan rumah tangga. Padahal, menyambung silaturahmi tidak selalu membutuhkan waktu yang lama. Cukup dengan menelepon, berkunjung sebentar, atau menyempatkan hadir di acara keluarga.
Bagi saudara yang jauh, panggilan telepon atau panggilan video bisa menjadi cara menyambung silaturahmi, dan itu baik. Tetapi kalau kita mampu, tetaplah berusaha bertemu langsung. Pertemuan langsung memberi kehangatan yang sulit digantikan oleh cara lain.
Silaturahmi juga membawa kebaikan bagi diri kita sendiri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.
“Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Bukhari, nomor 5985, dan Muslim, nomor 2557)
Siapa yang tidak ingin rezekinya lapang dan umurnya penuh berkah? Sebagian ulama menjelaskan bahwa umur yang dipanjangkan di sini mencakup keberkahan umur, yaitu waktu yang dipenuhi dengan amal baik.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sekarang kita bicara tentang masalah yang sering terjadi di zaman ini. Di tengah keluarga, perselisihan kadang tidak bisa dihindari. Ada yang karena warisan, karena utang, karena beda pilihan politik, atau karena salah paham. Akibatnya ada yang tidak mau bertegur sapa, tidak mau datang ke acara keluarga, saling menyindir di depan orang lain atau di media sosial, bahkan memblokir nomor saudaranya sendiri.
Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya karena urusan dunia lebih dari tiga malam. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Beliau juga bersabda bahwa orang yang memutus silaturahmi tidak akan masuk surga. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ini peringatan yang sangat keras, dan kita semua harus menjauhinya.
Lalu bagaimana kalau kita sudah berbuat baik, tetapi mereka tetap tidak mau menyambung hubungan? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa penyambung silaturahmi yang sebenarnya bukanlah orang yang sekadar membalas kebaikan. Penyambung silaturahmi yang sebenarnya adalah orang yang tetap menyambungnya ketika hubungan itu diputus. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Maka jangan menunggu orang lain meminta maaf lebih dulu. Kitalah yang memulai. Hubungi dia secara langsung. Telepon dia, atau datangi dia kalau memungkinkan. Jangan menyindir lewat tulisan atau lewat orang lain.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sekarang kita lihat persaudaraan yang lebih luas, yaitu ukhuwah antara sesama muslim. Allah berfirman.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat ayat 10)
Karena bersaudara, kita punya tanggung jawab satu sama lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya sendirian. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Di zaman sekarang, membantu itu bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Memberi tahu saudara yang sedang mencari pekerjaan kalau ada lowongan. Membeli dagangan tetangga atau kerabat kita. Ikut membantu biaya pengobatan warga yang sakit. Atau sekadar menanyakan kabar orang yang sedang kesulitan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada satu hal lagi yang sering merusak persaudaraan, yaitu kabar yang belum jelas kebenarannya. Kabar seperti ini menyebar dari mulut ke mulut, dan sekarang juga lewat pesan berantai dan video yang beredar di ponsel. Allah berfirman.
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat ayat 6)
Maka sebelum menceritakan atau meneruskan sebuah kabar, periksa dulu kebenarannya. Jangan menyebarkan aib saudara kita. Jangan mempermalukan siapa pun di depan banyak orang. Dan kalau ada perbedaan pilihan, baik dalam urusan politik maupun urusan dunia lainnya, jangan sampai perbedaan itu menghancurkan hubungan keluarga dan pertemanan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Persaudaraan juga harus kita jaga di lingkungan tempat tinggal. Di kota maupun di desa, kadang ada tetangga yang bertahun-tahun tinggal berdekatan tetapi tidak saling mengenal. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa Malaikat Jibril terus berwasiat kepada beliau tentang tetangga, sampai beliau mengira tetangga akan mendapat bagian warisan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Karena itu, sapalah tetangga kita. Kenali namanya. Jenguk kalau ada yang sakit. Datang melayat kalau ada yang wafat. Ikut kerja bakti dan kegiatan warga, sebisa kita. Hal-hal kecil seperti ini membuat lingkungan kita lebih rukun dan lebih aman.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lalu apa langkah sederhana yang bisa kita lakukan mulai hari ini?
Pertama, pilih satu keluarga yang sudah lama tidak kita hubungi, lalu datangi atau telepon hari ini.
Kedua, minta maaf dan maafkan lebih dulu, tanpa menunggu orang lain memulai.
Ketiga, sepakati adab di dalam keluarga, baik saat berkumpul maupun di grup pesan keluarga bagi yang memilikinya, yaitu tidak berdebat panas, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas, dan tidak mempermalukan siapa pun.
Keempat, kenali tetangga kita dan ikut kegiatan warga.
Dan kelima, doakan keluarga dan saudara kita dalam setiap sholat.
Semoga Allah menyatukan hati kita, menjaga keluarga dan lingkungan kita dari perpecahan, dan menjadikan kita orang-orang yang menyambung silaturahmi dan menjaga persaudaraan.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
يَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ وَصِلُوا أَرْحَامَكُمْ، وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ، وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا وَأَيْدِيَنَا مِنْ نَشْرِ الْأَخْبَارِ الْكَاذِبَةِ، وَمِنْ كُلِّ مَا يُفَرِّقُ بَيْنَنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْوَاصِلِينَ لِأَرْحَامِهِمْ، الْمُتَحَابِّينَ فِيكَ، الْمُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْخَيْرِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَأَهْلَهَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Sumber ayat: QS. An-Nisa ayat 1, QS. Al-Hujurat ayat 6 dan 10, QS. Al-Ma'idah ayat 2, QS. Al-Hasyr ayat 10, dan QS. Al-Ahzab ayat 56.
Sumber hadits: HR. Bukhari nomor 5985 dan Muslim nomor 2557, Bukhari nomor 6077 dan Muslim nomor 2558, Bukhari nomor 5984 dan Muslim nomor 2556, Bukhari nomor 5991, Bukhari nomor 2442 dan Muslim nomor 2580, serta Bukhari nomor 6014 dan Muslim nomor 2625.
Demikian teks khutbah Jumat tentang silaturahmi dan menjaga persaudaraan di era digital. Semoga bermanfaat. Silakan unduh PDF-nya melalui tombol di bawah ini.
DOWNLOAD PDF KHUTBAH SILATURAHMI