Khutbah Jumat tentang syukur ini mengingatkan kita bahwa di era media sosial, kita mudah sekali membandingkan hidup sendiri dengan bagian terbaik dari hidup orang lain. Dari sinilah sering muncul rasa iri, rasa kurang, dan hati yang tidak tenang.
Teks khutbah ini mengajak kita memahami kembali makna syukur dan qana'ah, serta menjaga hati dari kebiasaan membandingkan diri di tengah budaya pamer, lengkap dengan dalil Al-Qur'an dan hadits beserta terjemahnya. Cocok dibaca khotib dengan durasi sekitar 8 sampai 9 menit, dan tersedia dalam bentuk PDF.
Isi khutbah ini
- Kebiasaan membandingkan hidup di era media sosial
- Larangan memandang kenikmatan orang lain
- Melihat ke bawah dalam urusan dunia
- Makna syukur dalam hati, lisan, dan perbuatan
- Lima langkah menjaga hati dari budaya pamer
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعَمٍ لَا تُحْصَىٰ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Coba kita perhatikan kebiasaan pagi hari kita. Begitu bangun, tangan kita mencari ponsel. Kita membuka layar, dan yang muncul adalah liburan teman, rumah baru kenalan, kendaraan baru, prestasi anak orang lain, dan pekerjaan yang tampak begitu mapan.
Tanpa sadar, kita mulai berkata dalam hati, “Kok hidupku begini-begini saja?”
Inilah ujian zaman kita. Kita hanya melihat bagian terbaik dari hidup orang lain, lalu membandingkannya dengan keadaan sehari-hari hidup kita sendiri. Orang menampilkan bagian yang indah, sementara kita hanya tahu kesulitan diri sendiri. Dari sinilah muncul rasa iri, rasa kurang, dan gelisah yang tidak ada habisnya.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Penyakit hati seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Al-Qur'an sudah mengingatkan sejak awal.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
“Janganlah engkau (Nabi Muhammad) tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan mereka, janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka, dan berendah hatilah engkau terhadap orang-orang mukmin.”
(QS. Al-Hijr ayat 88)
Ayat ini mengajarkan bahwa kenikmatan yang diberikan kepada orang lain tidak seharusnya membuat mata dan hati kita terus mengejar dan merasa tertinggal. Rezeki setiap orang sudah Allah atur dengan ilmu dan hikmah-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan petunjuk yang sangat sederhana.
“Lihatlah kepada orang yang keadaannya di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.”
(HR. Muslim, nomor 2963)
Para ulama menjelaskan bahwa petunjuk ini berlaku dalam urusan dunia. Dalam urusan dunia, lihatlah ke bawah supaya kita pandai bersyukur. Adapun dalam urusan kebaikan dan ketaatan, kita justru diperintahkan untuk berlomba, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 148 agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan.
Jadi dalam urusan ibadah, kita boleh ingin menyamai semangat orang lain untuk sholat malam, bersedekah, dan menuntut ilmu. Tetapi jangan sampai kita iri karena harta, jabatan, dan penampilan orang lain.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Padahal, apa yang tampak di layar sering kali hanya sebagian kecil dari kehidupan mereka. Kita tidak tahu utang yang mereka tanggung, tidak tahu lelah yang mereka sembunyikan, dan tidak tahu ujian yang tidak mereka unggah. Sementara itu, nikmat yang ada pada kita sering lupa kita hitung, yaitu napas yang masih berjalan, badan yang masih mampu berjalan ke masjid, keluarga yang menunggu di rumah, dan iman yang masih Allah jaga di hati kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyatakan, ‘Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrahim ayat 7)
Syukur bukan hanya ucapan “alhamdulillah”. Syukur ada di hati, dengan meyakini bahwa semua nikmat datang dari Allah. Syukur ada di lisan, dengan memuji-Nya. Dan syukur ada dalam perbuatan, dengan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lalu, bagaimana kita menjaga hati di tengah zaman yang serba pamer ini? Ada beberapa langkah sederhana.
Pertama, jaga apa yang kita tonton. Jika ada akun yang setiap kali kita lihat justru menimbulkan iri dan rasa kurang, jangan ragu untuk menjauh darinya. Menjaga hati lebih penting daripada menjaga rasa sungkan.
Kedua, biasakan menghitung nikmat sebelum menghitung kekurangan. Sebelum tidur, ingatlah tiga nikmat yang Allah berikan hari ini.
Ketiga, jika ada orang yang mendapat nikmat, doakan. Ucapkan “barakallah”, bukan berkomentar sinis atau diam-diam menyimpan iri.
Keempat, jangan ikut-ikutan budaya pamer. Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan pada diri sendiri, apakah ini bermanfaat, atau hanya ingin dipuji? Sebab ketika kita memamerkan sesuatu, bisa jadi kita membuat orang lain iri, dan membuat diri kita sendiri riya.
Kelima, ingatlah bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan pada banyaknya harta dan pengikut, melainkan pada ketakwaannya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, yang hatinya lapang dan tenang dengan pemberian-Nya, serta tidak tergoda oleh apa yang dimiliki orang lain.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
يَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ الشُّكْرَ سَبَبٌ لِزِيَادَةِ النِّعَمِ، وَأَنَّ الْقَنَاعَةَ رَاحَةٌ لِلْقَلْبِ، فَاشْكُرُوا اللَّهَ عَلَى مَا أَعْطَاكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، وَتَنَافَسُوا فِي الْخَيْرَاتِ وَالطَّاعَاتِ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحَسَدِ وَالرِّيَاءِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ الْقَانِعِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَأَهْلَهَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Sumber ayat: QS. Al-Hijr ayat 88, QS. Ibrahim ayat 7, QS. Al-Baqarah ayat 148, dan QS. Al-Ahzab ayat 56.
Sumber hadits: HR. Muslim nomor 2963.
Demikian teks khutbah Jumat tentang syukur dan menjaga hati di era pamer. Semoga bermanfaat. Silakan unduh PDF-nya melalui tombol di bawah ini.
DOWNLOAD PDF KHUTBAH SYUKUR